Statistik Oh Statistik

7664326114283l.jpg

Pusing!!!

Berulang kali kubaca, kuresapi, dan coba tuk kumengerti barisan angka dan huruf yang membuat perut mules. Deretan rumus statistik.

Mengapa tetep sulit ya? Padahal, dulu nilai A selalu nangkring kalau pas mata kuliah matematika. Tapi sekarang… rasanya goodbye dada deh…(tapi kalau boleh berharap, statistikku kali ini juga dapat A, amin…).

            Dan ternyata nggak hanya diri ini yang mersa tersiksa. Hampir semua mahasiswa juga…            Di tengah kebimbangan itu, Bedy…salah satu temanku menjepret Rika dengan karet – mungkin untuk menghilangkan stress-             ”Ih Bed, ada apa sih?” tanya Rika. Jelas saja dia terganggu. Enak-anak belajar, tiba-tiba ada karet yang menyapa kulitnya.            ”Rik, doa orang teraniayakan langsung dikabulkan. Kamukan teraniaya, jadi doain agar teman-teman sekelas bila ujian semua.” please deh Bed…            Lain bedy, lain Melati (nama samaran-dia nggak mau namanya diekspos untuk hal ini). Sambil bisik-bisik dan setengah diam-diam anak satu memperlihatkan catatan saktinya di tutup kalkulator. Ampun…berani banget!             ”Bisa digosok g?” tanyaku. Soalnya itu kalkulator pinjaman.            ”Bisa, coba kamu gosok,” tanganku berusaha meraih dan menghapusnya. Tapi tiba-tiba…”Ojo digosok saiki! Ta’kethaki koen!1” ujarnya             Siang itu…wajah-wajah teman sekelas nampak suram semua, mulutnya sibuk komat-kamit hapalin rumus jitu. Waduh…kelihatan mereka siap tempur nih…aku…hiks… materi yang kupelajari tadi malam, rasanya banyak yang terbang.             ”Friend-friend…gimana kalau ulangannya diundur?” tanyaku pada kelas.             Mata-mata itu menatapku penuh harap dan mengangguk-angguk. Ada juga yang langsung teriak ”setuju Zie”. Ternyata kita sehati teman-teman…            Di tengah kebingungan itu, Emi maju ke depan dan menulis sesuatu di papan tulis. ”Mengapa Malang sekarang tidak hujan?” please deh…nyambung nggak sih?            Beberapa menit kemudian…datanglah bapak dosen…-sebenarnya aku suka dengan beliau, walaupun mata kuliah ini butuh perjuangan-            Dan seperti rencana, beberapa dari kami akan tanya materi-materi yang belum jelas. Dengan istilah lain, mengundur-undur waktu biar nggak jadi ulangan.             ”Pak, maaf ada beberapa materi yang belum saya mengerti…tanyaku.            ”Ya, apa?” tatapan beliau menuju ke arahku.            ”Masalah Harga Kritik, perbedaan satu ekor dan dua ekor (bayangin pelajaran statistik ada ekor-ekornya!) dan masalah kurva normal,” kusebutkan materi yang belum nyantol di otak.            Beliaupun menjelaskan….bla…bla…bla…trus disambut pertanyaan demi pertanyaan lagi. Berharap usaha ini sukses.Tapi tiba-tiba beliau berkata,”Ok, satu jam untuk kuliah dan dua jam ujian,” glodak…”Open book ya pak?” Dosenku menganggukkan kepala. Alhamdulillah…Ujianpun dimulai, nggak ada yang berani tolah-toleh, bangku dipisah, dan semua diam! Akupun sibuk dengan pekerjaan dan lembar demi lembar catatan. Tiba-tiba mataku tertuju pada satu lembar catatan milik Fika… wah…pasti dia kelabakan mencari kertas ini. Maaf Fik…lagian nggak mungkin di tengah-tengah ujian aku berjalan ke arahmu dan menodorkan kertas. Atau titip teman bagian belakang biar ditransfer ke arahmu. Bisa dikira macem-macem…Jadi aku diam saja, gawatnya lagi…catatannya dengan catatan yang kupunya ada bagian yang nggak sama…glodak! Jadi bingung! Ini aku yang ngantuk atau dia yang pingsan. Tapi alhamdulillah semua soal berhasil kukerjakan. Selesai ujian aku berjalan ke arah Fika. Dia langsung menyambutku dengan bersemangat. Seperti mau mengeluarkan kata-kata penting untuk disampaikan.’Zie, catatanku hilang!” katanya.”Maaf Fik ada di aku…” jawabku…”Hah…Zie…tahu nggak sih..aku tadi bingung banget!” ujarnya.”Maaf…tapi kamu bisakan?” tanyaku.”Bisa! Aku tadi lhat sebelahku,” What…beraninya…prasaan aku tadi anteng nggak berani toleh kanan kiri apalagi buat melirikjawaban teman. Nggak kebayang kalau ketahuan!  

19 Nopember 2007 

Keterangan:1. Jangan digosok sekarang! Aku pukuli kamu!”   

Add comment November 21, 2007 ziesaja

Penting Nggak Sih Zie? Penting Nggak Ya?

Sore ini aku merenung, sepertinya ada beberapa yang berubah pada diri ini. Zie yang dulu cuek bebek dengan yang namanya penampilan. Zie yang lebih suka keliling toko buku dan menghabiskan waktu di sana sampe-sampe lupa waktu. Zie yang…

            Entah awalnya bagaimana, diri ini mulai suka merhatiin penampilan n suka beli baju. Kegiatan yang rasanya aneh kalau seorang Zie bisa seperti itu. Zie yang anti belanja baju. Zie yang terkenal dengan pakaian yang itu-itu saja (dari beberapa teman kos, bajukulah yang paling sedikit), yang selalu pake tas ijo, dan jilbab lebar yang instant. Pokoknya yang praktis deh!

            Sekarang…ehm bisa dilihat sendiri deh.

            Setelah memutar memory barang sejenak. Mengingat peristiwa demi peristiwa yang terjadi. Menelusuri aktivitas-aktivitas terakhirku… akhirnya aku tahu mengapa hal ini bisa terjadi padaku. Sampai-sampai ibulah yang rajin beliin baju buat diri ini. Memang bukan sebuah rahasia lagi kalau Zie itu paling males beli baju!

            Ingatanku melayang pada siang itu, saat aku dibonceng seorang teman. Tiba-tiba dari belokan belakang (radius beberapa meter) ada yang meneriaki namaku. Zie! Akupun menoleh ternyata pak ketua FLP.  Padahal jaraknya lumayan jauh lho! Nglewati belokan bahkan. Tapi mengapa dia langsung kalau itu aku? Ternyata setelah kukonfirmasi ternyata dia hapal baju dan jilbabku. Glodak… ta’ kira apa…ternyata.

            Trus suatu sore di Brawijaya, ketika perjalanan untuk rapat FLP. Aku berjalan dengan beberapa teman. Tiba-tiba dari arah belakang ada seorang teman berteriak memanggil namaku. Satu lagi yang harus diingat, jarak kami lumayan jauh! Sampe-sampe teman seperjalananku bertanya, “Dia kok bisa hapal banget ma kamu?”

            “Nggak tahu juga,” jawabku.

Tapi ternyata usut punya usut ini karena dia hapal tasku. Waaa…

Kejadian berikutnya adalah pondok Ramadhan kemarin. Aku lupa nggak bawa baju banyak, coz yang ada di jadwal diri ini cuma ngisi dua hari. Eee…ternyata empat hari!

Waduh gimana ini? Balik ke Malang? Jelas nggak mungkin! Alhamdulillah muncullah beberapa ide untuk me-matching-kan bajuku, selain harus nyuci baju sepulang acara. Hingga akhirnya mentok dan mengharuskan pake jaket.

Terakhir karena petuah seorang kakak yang baru kukenal, “Zie…jangan hanya beli buku saja. Buku memang penting tapi baju juga penting! Kamukan perempuan, jaga penampilan itu harus!” Oooo gitu ya…

Ehm ternyata aku perlu anggaran khusus untuk menambah koleksi baju! Apalagi saat ini adalah sibuk-sibuknya kerja sambil kuliah. Dan yang paling penting! Sekarang adalah musim hujan!

10 November 2007

Menggores tinta menabur makna

Add comment November 21, 2007 ziesaja
Tags:

Kedatangannya Tak Terduga, Tak Terdeteksi, Tak Terpikirkan

Kedatangannya tak terduga…mengagetkan dan agak membuatku bingung. Hehehe maaf ya pak…beliau adalah seorang teman papaku di kantor sekaligus temanku di beberapa aktivitas.

Tadi pagi setelah sholat Shubuh (masih dalam keadaan pusing karena flu) diri ini berniat untuk tidur lagi. Tapi tiba-tiba ibu mengagetkan dengan sebuah berita. Berita yang tak kusangka sebelumnya.

“Nduk, pagi ini pak X (eits namanya disensor dulu ya…) mau datang ke rumah.” Ujar ibuku.

What? Pagi ini! Niat untuk bertemu ranjang jadi tertunda deh. 

Pak X adalah seorang aktivis dakwah yang super sibuk. Kantor papalah yang mempertemukan kami untuk pertama kalinya. Awalnya kaget juga, tumben ada ikhwan masuk di ruangan papa. Ee..ternyata beliau adalah guru baru. Setelah itu, kami bertemu lagi dalam beberapa kegiatan. Bener-bener nggak nyangka! Temanku adalah temen papaku.

Dalam keadaan pusing bin ngantuk, akhirnya kami bagi tugas. Aku kebagian nyuci baju.

Berulangkali kulihat jam, kira-kira beliau datang jam berapa? Waduh rumah masih berantakan, mudah-mudahan nanti papa nggak ngajak beliau keliling rumah (biasanya papaku melakukan ini kalau temannya datang). Ehm nanti bicara apa saja ya? Mudah-mudahan nggak mbahas aku…piuh..GRnya.

Nggreeengg ngreengg (mirip suara sepeda nggak sih?) terdengar suara motor –sekitar jam 6 pagi- saat tanganku masih di mesin cuci. Kulihat sekilas, ternyata beliau. Alhamdulillah aku sudah mandi dan tentunya tetep pakai jilbab (ini harus!).

Maunya ibu, diri ini ikut nimbrung, tapi ngobrolin apa… bingung! Apalagi di ruang tamu ada ibu dan papa. Mudah-mudahan mereka nggak cerita tentang anak perempuannya ini. Bisa berabe!

Dengan sedikit pasang telinga, akhirnya aku tahu apa yang diobrolin. Tak disangka ternyata masalah burung! Hobi baru papaku…

Tiga puluh menit berlalu… ibu berangkat ke skul duluan, sedang aku masih berbenah. Dan.. semua sudah siap, eit tinggal sepatu…waduh sepatunya di depan!

“Zak..” kupanggil adik semata wayangku.

“Tolong ambilin sepatu di depan ya,” pintaku.

Adikku memang baik, perlahan-lahan dia lewat ruang tamu untuk mengambil benda hitam itu.

“Makasih ya,” ujarku. Si dedek tersenyum

Sebelum berangkat sekolah. Ibu berpesan agar aku ikut ngobrol-ngobrol dulu dengan si ikhwan X.

Waduh gimana ini?

Setelah berpikir agak lama, menimbang baik buruknya, dan beberapa kali melihat jam akhirnya aku berjalan ke ruang tamu, menemui mereka berdua yang asyik berbincang ria. Tersenyum dua centi ke kanan dan dua centi ke kiri. Dan pamit!

“Berangkat ya pa,” pamitku ke papa.

“Mari pak,” ujarku pada beliau. Beliau tersenyum dan bilang “iya” kemudian menunduk. Begitu juga dengan diri ini. Aku langsung menunduk dan segera berangkat.

Aneh juga… di luar kami bisa ngobrol banyak hal, tapi pas di rumah, diri ini hanya bisa diam. Ehm…mungkin bingung mau mbahas apa.

Ini untuk pertama kalinya aku dan papa punya temen yang sama. Bicara ma papa nyambung, ngobrol ma aku jalan. Ehm…gimana ya kalau kami bertiga bertemu dalam satu tempat trus bicara bareng. Nggak usah dibayangin deh! Soalnya aku pasti akan pergi dan mempersilahkan mereka berbincang-bincang sendiri. Kecuali kalau diri ini dipanggil untuk gabung. Maksudnya?

10 November 2007

Add comment November 21, 2007 ziesaja
Tags:

Syuting…

“Disyuting?” Aku masih belum percaya.

“Iya mbak, nanti acaranya disyuting, biar ada kenangan.” Penjelasan guru SMP itu membuatku agak…

Soalnya ini penampilan perdanaku. Dan aku belum yakin kalau sukses!

“Maaf pak, nanti yang mengambil gambar siapa?” mudah-mudahan perempuan, harapku.

“Mungkin kalau bukan pak Toha ya pak Rahmat (pak Rahmat atau pak Rahman ya? Maaf aku lupa).” Jawaban yang…

“Maaf, kalau misal perempuan bagaimana?” tawarku.

“Yang bisa mereka berdua mbak,” begitu ya…

Waduh bagaimana ini, soalnya aku suka grogi dan merasa nggak bebas berekspresi kalau dilihat pria.

. . .Pas hari H…di bulan Ramadhan, bertempat di SMP Negeri favorit di daerahku. Beberapa detik menjelang aku ngisi acara pondok Ramadhan (putri) dengan tema SERASI (Semarak Sekolah Islami).“Maaf pak, kalau misal yang mengambil gambar cewek bagaimana? Dari adik-adik OSIS mungkin? Soalnya saya…” kujelaskan alasanku.“Ehm begini, sepertinya nanti yang ambil gambar pak Toha dan pak Didik. Pak Rahmat tidak bisa. Wes mbak milih siapa?” waduh…“Pak Toha bagaimana?” tanyanya. Aku diam…“Kalau pak Didik?” masih belum ada jawaban.“Kalau misal tidak usah disyuting bagaimana pak?” sepertinya tawaranku tak berhasil.Dengan beberapa pertimbangan, aku milih pak Toha. Coz beliau sudah nikah. Sedang pak Didik, masih belum (semoga dipercepat pak).Allah, tolong permudah jalanku…Amin…Sebelum acara, pak Toha mengajari Diah-status: my friend- untuk mengoperasikan handycam. Siapa tahu, dia langsung bisa dan dialah yang mengambil gambarku.“Gimana Dy,” tanyaku.“InsyaAllah bisa Zie,” jawabannya membuat sumringah.Kamipun merekam ruangan, sebagai coba-coba gitu…“Waduh Zie, cara nyimpannya tadi bagaimana?” glodak…(oh ya…tulisan di handycam itu bahasa Jepang, bukan bahasa Inggris).

“Ayo Dy, please, anti aja yang nyuting,” pintaku.

“Trus kalau aku yang nyuting, yang mengoperasikan komputer siapa?” Ya Allah, baru ingat. Diakan jadi operatorku. Lemes lagi deh…

“Sudah Zie, nggak papa…pak Toha saja ya,” ujarnya. Akupun menganggukkan kepala.

Acarapun dimulai…pak Toha siap dengan handycam di tangan. Kuhirup napas dalam-dalam dan keluarkan… Bismillah…diawali  salam, pembacaan CV plus perkenalan dan…training. Diri ini bagian training motivasi.

Alhamdulillah lancar. Bahkan banyak di antara mereka yang menangis dan bertekad untuk berusaha membuat perubahan pada dirinya. Terakhir ada sesi potong pensil…alhamdulillah sebagian dari adik-adik bisa.

Makasih Rabb… Engkau permudah semuanya.

Trus masalah syuting? Tidak sekali-kali mata ini menoleh ke arah benda itu.

Ramadhan tahun ini membawa arti penting bagiku. Banyak pelajaran dan pengalaman baru yang kudapat. Salah satunya adalah saat mengisi di SMPku dulu.

Mulai dari perjuangan mencari alumni yang kompeten, merancang scenario acara dengan berbagai kendala, pertemuan dengan teman-teman C-DIA yang berisi, serunya mengatasi salah paham dalam tim (dari sini aku mulai tahu kalau cowok dan cewek beda banget!), terbinanya kembali hubungan dengan ibu bapak guruku, dulu.

Kenangan ketika Ramadhan…

Teringat aku akan ucapan seorang teman, “Kita datang untuk sukses, tidak untuk gagal!” makasih ya…  

1 comment November 20, 2007 ziesaja
Tags:

Pages

Categories

Links

Meta

Calendar

Desember 2009
S S R K J S M
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Most Recent Posts